Tidak jauh dari Tangsel. Viewnya bisa dinikmati dari Tangsel juga.
Semoga kita semua terhindar dari segala musibah.

BOGOR – Gunung Salak bak bom waktu. Bisa ’’terlelap’’ kapan saja. Berkaca dari data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sepanjang 2018 sudah terjadi ribuan kali gempa di gunung api purba tersebut. Selayaknya masyarakat tetap waspada.

Abu hitam menyembur setinggi 50 ribu kaki dari puncak Gunung Salak, 5 Januari, 319 tahun silam. Letusan di akhir abad 16 itu pun membawa kerusakan masif di bangunan-bangunan sepanjang Bogor hingga Batavia (sekarang Jakarta).

Letusan itu menutupi atmosfer Bogor dan Sukabumi. Mengalirkan aliran lahar dan material vulkanik seperti batu-batuan melalui Sungai Cisadane dan Ciliwung hingga ke Teluk Jakarta.

Peristiwa besar itu tercatat dalam data dasar Gunung Api Indonesia (Edisi Kedua). Letusan Gunung Salak berikutnya terjadi tak lebih dari seabad setelah letusan pertama, yaitu pada 1761 dan 1780. Namun, dua letusan di abad ke-17 itu tak memiliki skala letusan yang besar seperti letusan pertama.

Terakhir, Gunung Salak meletupkan aktivitas vulkanisnya pada 1938 berupa erupsi freatik yang terjadi di kawah Cikuluwung Putri. Kini, Gunung Salak masih menyandang status sebagai Gunung Api aktif. Selama ratusan tahun sejak letusan hebat 1699 Gunung Salak masih tertidur.

“Ancaman tetap saja ada. Makanya pemantauan terus kami lakukan,” ujar Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat pada PVMBG, Kristianto kepada Radar Bogor.

Foto dan Berita: @radar_bogor